PENYERAPAN UNSUR HARA

Advertisement


Advertisement
Makalah Fisiologi Tumbuhan

PENYERAPAN UNSUR HARA



Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan
memenuhi syarat-syarat mata kuliah Fisiologi Tumbuhan


Oleh
Kelompok
Anggota
MALEK AZIS           1408104010002
MAISUN                    1408104010034
MARBAWI               1408104010018
ZAIRINI NURIS      1408104010048














KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Fisiologi Tumbuhan yang berjudul “Penyerapan Unsur Hara” sebagai tugas khusus dalam memenuhi persyaratan perkuliahan di jurusan Biologi, Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala.  Shalawat dan salam penulis sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini tidak luput dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak baik secara moril maupun materil. Oleh karena itu,  pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Bapak Feri Suryawan, M.Si, selaku dosen mata kuliah Fisiologi Tumbuhan yang telah memberikan arahan dan bimbingan guna menyelesaikan penulisan makalah.
2.      Seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah Fisiologi Tumbuhan yang telah membantu baik dalam perkuliahan maupun penyelesaian makalah ini.
Semoga segala bantuan, dorongan, doa, tenaga dan waktu yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.  Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan kedepannya. Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi penulis dan pembaca.



Darussalam, 21 Februari 2017

                                                                                                        (Penulis)
DAFTAR ISI
                   Halaman
Kata Pengantar...................................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................................... ii

BAB I      PENDAHULUAN
   1.1. Latar Belakang.............................................................................. 1
........    1.2. Rumusan Masalah......................................................................... 1
........    1.3. Tujuan Penulisan........................................................................... 2

BAB II    PEMBAHASAN
2.1  Akar sebagai organ penyerap........................................................... 5
2.2  Peran mikoriza................................................................................. 6
2.3  Tanah dan ketersediaan hara............................................................ 9
2.4  Lintasan pergerakan hara menuju dan didalam jaringan akar......... 11
2.5  Prinsip penyerapan hara................................................................... 12
2.6  Karakteristik serapan hara............................................................... 12
2.7  Mekanisme serapan hara.................................................................. 13


BAB III   KESIMPULAN.................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 17













BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tumbuhan merupakan makhluk hidup yang tergantung sepenuhnya pada bahan anorganik dari lingkungannya atau disebut autotrof. Tumbuhan memerlukan cahaya matahari sebagai sumber energi untuk melakukan fotosintesis. Untuk mensintesis bahan organik, tumbuhan memerlukan bahan mentah dalam bentuk bahan-bahan anorganik seperti karbondioksida, air, dan berbagai mineral yang ada sebagai ion anorganik dalam tanah. Melalui sistem akar dan sistem tunas yang saling berhubungan, tumbuhan memiliki jaringan kerja yang sangat intensif dengan lingkungannya seperti tanah dan udara yang menyediakan bahan anorganik untuk membentuk senyawa karbon komplek seperti karbohidrat, protein, lipid, dan lain sebagainya (Campbell et al. 2003).
          Tanah merupakan suatu sistem yang kompleks, berperan sebagai sumber kehidupan tanaman seperti air. Selain air, media tanam juga harus mampu menyediakan pasokan makanan bagi tanaman yang lebih dikenal dengan unsur hara. Berdasarkan hasil penelitian, tanaman terdiri dari sekitar 50 elemen atau unsur. Sedangkan yang dibutuhkan oleh tanaman selama masa pertumbuhan dan perkembangannya ada 16 unsur yang merupakan unsur hara esensial.
Penyerapan unsur hara oleh tumbuhan melalui beberapa mekanisme yang berbeda. Oleh sebab itu makalah ini dibuat untuk menjelaskan bagaimana unsur hara yang terdapat di dalam tanah bisa masuk ke dalam tumbuhan dan dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan tersebut.

1.2 Rumusan Makalah
1.      Akar sebagai organ penyerap
2.      Peran mikoriza
3.      Tanah dan ketersediaan hara
4.      Lintasan pergerakan hara menuju dan didalam jaringan akar
5.      Prinsip penyerapan hara
6.      Karakteristik serapan hara
7.      Mekanisme serapan hara

1.3 Tujuan Makalah
            Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui bagian prinsip, karakteristik, dan mekanisme penyerapan unsur hara.




BAB II
PEMBAHASAN
Salah satu faktor yang menunjang tanaman untuk tumbuh dan berproduksi secara optimal adalah ketersediaan unsur hara dalam jumlah yang cukup di dalam tanah. Jika tanah tidak dapat menyediakan unsur hara yang cukup bagi tanaman, maka pemberian pupuk perlu dilakukan untuk memenuhi kekurangan tersebut. Setiap jenis unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, tentunya memiliki fungsi, kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dalam memberikan unsur hara pada tanaman tentunya sangat penting dijaga keseimbangan dan pengaturan kadar pemberian unsur hara tersebut, sebab jika kelebihan dalam pemberiannya akan tidak baik dampaknya, demikian pula halnya jika yang diberikan tersebut kurang dari takaran yang semestinya diberikan (Acehpedia, 2010).


Gambar 1. Proses penyerapan unsur hara oleh tumbuhan

Setiap jenis tanaman membutuhkan unsur hara dalam jumlah yang berbeda. Ketidaktepatan pemberian unsur hara/pupuk selain akan menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal juga merupakan pemborosan tenaga dan biaya (tidak efisien). Agar usaha pemupukan menjadi efisien maka, pemberian pupuk tidak cukup hanya melihat keadaan tanah dan lingkungan saja, tetapi juga harus mempertimbangkan kebutuhan pokok unsur hara tanaman. Dengan diketahui kebutuhan pokok unsur hara tanaman maka dosis dan jenis pupuk dapat ditentukan lebih tepat (Sarief, 1986).
Pada umumnya kemampuan tanah menyediakan hara, dapt mencerminkan tingkat kesuburan tanah dan berkorelasi positif dengan hasil tanaman yang diusahakan. Di lain pihak tingkat kesuburan tanah berkorelasi negative dengan kebutuhan pupuk atau dapat diartikan makin tinggi tingkat kesuburan tanah, maka makin rendah penggunaan pupuk buatan dan tdak perlu. Tetapi jika jumlah unsur hara tidak dapat memenuhi kebutuhan tanaman setelah melalui analisis tanah maka perlu ditambahkan nutrisi yang ditambahkan dalam bentuk pupuk. Pemupukan merupakan suatu kegiatan yang penting untuk dilakukan pada tanaman yang kebutuhan nutrisinya belum terpenuhi, pemupukan adalah pemberian bahan kepada tanah dengan maksud memperbaiki atau meningkatkan kesuburan tanah. Pemberian bahan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi tanah baik fisika, kimia maupun biologi disebut amandemen (ameliorasi). Pemupukan menurut pengertian khusus ialah pemberian bahan untuk menambah unsur hara tersedia dalam tanah. Jadi pemupukan bertujuan memberi unsur hara yang cukup bagi kebutuhan tanaman dan atau memperbaiki atau memelihara kondisi tanah dalam hal potensi pengikatan unsur hara. Pemupukan yang tepat dan benar dapat mempercepat dan memperkuat pertumbuhan serta perkembangan tanaman, menambah daya tahan terhadap hama dan penyakit tertentu, maupun meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian (Sutedjo, Kartasapoetra dan Sastroatmodjo, 1996).
Efisiensi pemupukan dan pemupukan yang berimbang dapat diiakukan apabila memperhatikan status dan dinamika hara dalam tanah serta kebutuhan hara bagi tanaman untuk mencapai produksi optimum. Dengan pendekatan ini, maka dapat dihitung kebutuhan pupuk suatu tanaman pada berbagai kondisi tanah (status hara rendah, sedang dan tinggi) dan pada tanah-tanah lainnya pada tingkat famili yang sama (Hardjanto, dkk. 1986).



2.1  Akar Sebagai Organ Penyerapan
Akar merupakan bagian bawah tumbuhan yang biasanya berkembang di bawah permukaan tanah. Jaringan epidermis akar merupakan lapisan yang hanya terdiri dari satu lapisan sel. Keadaan sel-sel yang menyusun epidermis akar sangat rapat, tetapi karena dinding sel epidermisnya tipis, akar mudah ditembus oleh air. Air dan garam-garam mineral yang terlarut di dalamnya masuk pertama kali melalui rambut-rambut akar, bagian di antara epidermis akar, atau melalui dinding sel epidermis akar itu sendiri. Rambut akar merupakan hasil dari penonjolan epidermis yang arahnya ke luar. Dengan adanya rambut-rambut akar ini maka permukaan dinding sel akan semakin bertambah luas, sehingga proses penyerapan air akan lebih efisien. Jaringan epidermis pada akar tumbuhan tidak mengandung kutikula. Pada tanaman anggrek terdapat akar yang disebut akar gantung (akar udara). Akar udara ini dapat berkembang menjadi velamen, yaitu jaringan yang hanya terdiri atas beberapa lapis sel.
Korteks adalah bagian dalam akar yang tersusun oleh berbagai sel yang membentuk beberapa lapisan. Pada korteks ini terdapat jaringan parenkim, kolenkim, dan sklerenkim. Korteks tersusun oleh sel-sel yang susunannya longgar, yang menghasilkan ruang di antara sel-selnya disebut rongga antarsel. Rongga antarsel bermanfaat untuk proses pertukaran gas. Dinding-dinding sel pembentuk korteks keadaannya tipis, hal ini memberikan kelancaran pada proses pertukaran gas. Di samping itu, di dalam sel korteks kadang-kadang terdapat butir-butir zat tepung.
Endodermis merupakan bagian dari jaringan akar yang terdiri atas satu lapisan sel. Pada arah radial dan transversal lapisan dinding sel endodermis terdapat penebalan yang dihasilkan dari endapan zat yang disebut suberin. Zat suberin (gabus) memiliki sifat kedap air (tidak dapat ditembus). Penebalan pada dinding sel jaringan endodermis tampak berupa titik-titik yang disebut titik caspary. Deretan titik caspary selanjutnya membentuk pita caspary. Penebalan oleh lapisan gabus menyebabkan dinding selnya sukar untuk dilalui air, sedangkan air harus melalui lapisan endodermis agar mencapai silinder pusat. Oleh karena itu, air mengambil jalan lain, yaitu melalui lapisan endodermis yang dindingnya tidak mengalami penebalan. Sel-sel endodermis yang dinding selnya tidak mengalami penebalan ini disebut sel penerus. Dengan adanya sel penerus, air dapat mencapai silinder pusat tanpa harus mengalami hambatan lain. Dilihat dari letaknya, endodermis memiliki peranan untuk lewatnya air yang mengandung unsur hara dari korteks menuju silinder pusat. Oleh karena itu, endodermis memiliki bentuk dan susunan sel yang khas.
Silinder pusat terbentuk oleh berkas-berkas pengangkut dan beberapa jaringan lain. Berkas pengangkut yang membentuk silinder pusat, yaitu xilem, floem, dan perisikel. Letak xilem dan floem pada silinder pusat tumbuhan monokotil berselingan tersusun secara teratur sehingga membentuk jari-jari atau radial (berbentuk lingkaran). Pada tumbuhan dikotil, xilemnya terletak di pusat akar dan floemnya mengelilingi xilem. Oleh karena itulah, lapisan ini disebut silinder pusat. Pada tumbuhan dikotil, di antara xilem dan floemnya terdapat lapisan kambium. Fungsi lapisan kambium ke arah luar yaitu untuk membentuk bagian kulit, sedangkan ke arah dalam untuk membentuk bagian kayu. Selain ke empat lapisan akar di atas, pada lapisan terluar dari akar, yaitu di lapisan terluar silinder pusat, juga terdapat perisikel atau perikambium. Perisikel ini merupakan jaringan khusus yang berfungsi untuk membentuk percabangan pada akar.

2.2  Peran Mikoriza
Mikoriza secara harfiah berarti akar-jamur. Artinya mikoriza merupakan hubungan simbiotik dan mutualistic (menguntungkan kedua belah pihak) antara jamur nonpatogen dengan sel-sel yang hidup. Jamur memperoleh senyawa organic dari tanaman dan tanaman memperoleh keuntungan karena penyerapan unsur hara dan air dapat berlangsung lebih baik. Bagian tanaman yang terinfeksi adalah bagian akar yang masih muda. Mikoriza dikelompokan menjadi 2 jenis yaitu, ektomikoriza dan endomikoriza. Jenis ketiga yang jarang dijumpai adalah ektendotrofik yang merupakan jenis antara ekto dan endomikoriza.
Mikoriza mempunyai peranan penting dalam peningkatan pertumbuhan tanaman dengan cara meningkatkan kemampuan tanaman dalam penyerapan air dan unsur hara terutama P dengan cara memperluas area serapan. Simbiosis mikoriza dengan tanaman dimulai dari perkecambahan spora atau bentuk lain dalam propagul yang terdapat di dalam tanah. Spora kemudian berkecambah dan masuk ke dalam korteks akar membentuk arbuskula, yang merupakan tempat pertukaran hara antara mikoriza dengan tanaman inangnya. Hifa mikoriza berkembang keluar dari akar masuk ke dalam tanah yang disebut dengan hifa eksternal, yang berperan menyerap hara dan air. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan fisiologi pada tanaman inang, yaitu meningkatnya pertumbuhan tanaman dan ketahanan terhadap cekaman lingkungan  yang berbeda dengan tanaman tanpa mikoriza (Mosse, 1981).
Mayerni dan Hervani (2008) berpendapat bahwa pemberian mikoriza pada tanaman selasih mampu meningkatkan tinggi tanaman. Tanaman bermikoriza menunjukkan pertumbuhan tinggi tanaman dan luas daun yang lebih tinggi karena penyerapan akan hara yang dibutuhkan oleh tanaman berjalan lebih efektif sehingga metabolisme pertumbuhan tanaman dapat berlangsung dengan baik terutama pada fase vegetatif menuju fase generative. Mikoriza dapat meningkatkan nutrisi tanaman dan menghasilkan hormon-hormon pertumbuhan seperti auksin dan giberelin. Auksin berfungsi untuk mencegah penuaan akar, sehingga akar dapat berfungsi lebih lama dan penyerapan unsur hara akan lebih banyak. Sedangkan giberelin berfungsi untuk merangsang pembesaran dan pembelahan sel, terutama merangsang pertumbuhan primer. Kemampuan mikoriza dalam meningkatkan kemampuan penyerapan fosfat tidak hanya ditentukan oleh koloni jamur pada akar dan perkembangannya di dalam tanah, tetapi juga ditentukan oleh kemampuan hifa eksternal menyerap fosfat dari dalam tanah. Dalam kenyataannya intensitas infeksi tidak selalu sebanding dengan pengaruhya terhadap hasil tanaman. Infeksi dan pengaruh mikoriza berkurang dengan meningkatnya fosfat tersedia di tanah. Jika fosfat tersedia untuk tanaman berlebihan maka pertumbuhan tanaman yang tidak bermikoriza akan lebih baik dibandingkan dengan tanaman yang bermikoriza (Husin, 1994).
Quilambo (2003) berpendapat efisiensi penyerapan hara pada akar yang bermikoriza meningkat lebih baik dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza disebabkan oleh pengambilan dan pengangkutan aktif hara oleh mikoriza. Hifa mikoriza yang berkembang pada akar tanaman memungkinkan tanaman dapat menyerap hara yang tidak dapat dijangkau oleh akar tanaman tanpa mikoriza. Menurut Purwaningsih (2011) peningkatan penyerapan unsur hara terjadi dengan perluasan jangkauan penyerapan karena adanya hifa eksternal yang dapat mencapai 8 cm di luar sistem perakaran, eksploitasi sampai ke pori mikro karena kecilnya diameter hifa eksternal yang kurang dari 20 % dari diameter bulu-bulu akar, dan menambah luas permukaan sistem penyerapan.  
Ada banyak mikroorganisme berkembang di tanah, terutama di rhizosfer tanaman. Berbagai spesies bakteri dan jamur memiliki hubungan fungsional dan merupakan sebuah sistem holistik dengan tanaman. Mikroorganisme tersebut mampu memberi efek yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Vessey 2003). Mikroba-mikroba tanah berperan di dalam penyediaan dan penyerapan unsur hara bagi tanaman, misalnya hara Nitrogen (N), fosfor (P), dan Kalium (K) (Isroi 2007).
Weller et al. (2002) melaporkan bahwa komunitas mikroba dapat berperan dalam pertumbuhan tanaman melalui beberapa mekanisme, antara lain meningkatkan ketersediaan unsur hara di dalam tanah, menghasilkan hormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman, meningkatkan kemampuan bersaing dengan patogen akar, dan meningkatkan serapan unsur-unsur hara oleh tanaman. Kemampuan mikroba dalam menjalankan fungsi ekologis beragam sehingga untuk memanfaatkannya perlu dilakukan seleksi. Selanjutnya, mikroba unggul hasil seleksi dapat diperbanyak dan digunakan sebagai pupuk hayati.
Unsur N terdapat dalam jumlah yang melimpah di udara yaitu kurang lebih 78%. Namun, N udara berbentuk gas N2  dan tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Tanaman hanya dapat menyerap unsur N dalam bentuk tersedia seperti ammonium (NH4+) dan Nitrat (NO3-) (Salisbury & Ross 1995). Oleh karena itu, supaya dapat dimanfaatkan oleh tanaman maka N2 perlu diubah menjadi bentuk N terikat. Pengikatan (fiksasi) N dapat dilakukan secara kimia melalui proses industri maupun secara biologi. Pengikatan N2 dalam proses industri dapat menghasilkan pupuk anorganik seperti urea. Pengikatan N secarabiologi dilakukan oleh berbagai jenis mikroba penambat N baik secara simbiotik maupun non simbiotik (Hamim 2007). Pengikatan N oleh bakteri penambat N ditunjukkan dengan persamaan kimia berikut ini:
N2 + 8 H+ + 8 elektron + 16 ATP              2 NH3 + H2 + 16 ADP + 16 Pi 
Dua molekul amoniak terbentuk dari 1 molekul gas nitrogen serta diperlukan 16 molekul ATP dan suplai elektron dan proton. Reaksi kimia tersebut dapat dilakukan oleh organisme prokariot seperti bakteri dengan menggunakan kompleks enzim nitrogenase (Salisbury & Ross 1995).
Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose (kacang-kacangan) saja, sedangkan mikroba penambat N non simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman (Kristanto 2002). Mikroba penambat N simbiotik contohnya adalah Rhizobium sp. yang hidup pada bintil akar tanaman kacang-kacangan. Mikroba penambat N non simbiotik misalnya Azospirillum sp. dan Azotobacter sp. (Isroi 2007). Menurut Hamim (2007), Rhizobium hidup dalam bintil akar yang mampu secara kimia menambat nitrogen bebas (N2) dari udara dan mengubahnya menjadi amoniak (NH3) yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman inang untuk tumbuh dan berkembang.
Saraswati (1999) melaporkan bahwa Bradyrhizobium japonicum dan Shinorhizobium japonicum adalah bakteri bintil akar yang dapat mengikat nitrogen bebas melalui simbiosis dengan tanaman kedelai (Glycine max) sehingga dapat menyediakan nitrogen siap pakai bagi tanaman. Selain itu, penggunaan pupuk mikroba yang mengandung bakteri bintil akar Bradyrhizobium japonicum, bakteri pelarut fosfat Pseudomonas, Micrococcus, Bacillus, dan bakteri pemacu tumbuh Azospirillum dapat meningkatkan ketersediaan hara N dan P.
Kelompok mikroba lain yang juga berperan sebagai pupuk hayati adalah mikroba pelarut P dan K. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit atau tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Peranan mikroba pelarut P ini adalah  melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp., Penicillium sp., Pseudomonas sp., dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K (Isroi 2007).



2.3  Tanah dan Ketersediaan Hara
Tanah  dapat  didefinisikan sebagai material  mineral   tidak-padu  yang  berada di permukaan bumi  dan  yang  berfungsi sebagai medium alami bagi pertumbuhan tanaman darat. Akan tetapi kalau dilakukan praktek-praktek pengelolaan tanah dan dengan demikian  dipengaruhi  oleh faktor genetik dan  lingkungan,  maka akan banyak terjadi modifikasi pada karakteristik dan kualitas tanah.  Efek-efek  modifikasi terhadap  lengas tanah, temperatur-tranah, oksigen-udara-tanah, karakteristik kimiawi, kekurangan  atau keracunan hara, dapat  muncul  dan  terlibat dengan  interaksi-interaksi  yang terjadi  di  antara  parameter-parameter ini.  Selain hal-hal tersebut, uraian berikut ini  akan dibatasi  pada modifikasi zone perakaran tanaman, terutama yang  berkaitan dengan penyembuhan kekurangan unsur hara.
Dalam pertumbuhannya tanaman membutuhkan unsur hara yang cukup banyak, baik hara makro maupun hara mikro yang berasal dari alam maupun pupuk yang ditambahkan ke dalam tanah. Ketersediaan hara mineral makro dan mikro tersebut sangat penting karena setiap zat mempunyai kegunaan yang berbeda-beda. Hal itu pula yang mengakibatkan kebutuhan tanaman untuk setiap zat berbeda-beda jumlahnya (Taiz & Zeiger 2002).
Hingga saat ini diketahui ada 19 unsur hara esensial yang dibutuhkan oleh tanaman, 10 di antaranya adalah hara esensial makro dan sisanya adalah esensial mikro. Nama unsur, simbol unsur, bentuk ketersediaannya di dalam tanah, dan jumlah akumulasinya di dalam tubuh tumbuhan dapat dililhat pada Lampiran 1.  Dari ke 19 unsur tersebut C, H, dan O mendominasi lebih dari 95% bobot kering tumbuhan, sedangkan unsur lainnya kurang dari 5%. Unsur N yang diakumulasi tumbuhan hanya memiliki proporsi sekitar 1,5% dari bobot kering sel atau jaringan tumbuhan. Hal ini terkait dengan peran C, H, dan O sebagai kerangka utama yaitu senyawa organik dalam tubuh tumbuhan. Unsur C dan O diperoleh dari udara dalam bentuk CO2 dan O2, unsur H diperoleh dari dalam tanah dalam bentuk air (H2O) (Hamim 2007).
Tanaman tidak dapat secara selektif menyerap unsur hara yang esensial bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Selain hara esensial, terdapat juga hara non esensial yang dalam kondisi agroklimat tertentu bisa memperkaya pertumbuhan tanaman dengan mendorong proses fisiologi. Hara tersebut disebut dengan hara fungsional atau hara bermanfaat (pembangun) yang jika tidak ada maka pertumbuhan tanaman tidak terganggu (Yukamgo & Yuwono 2007).
Sebagian besar unsur yang diperlukan tanaman diserap dari larutan tanah melalui akar. Penyerapan unsur hara umumnya lebih lambat dibandingkan dengan penyerapan air oleh akar tanaman. Banyak factor yang mempengaruhi pola penyebaran akar diantaranya adalah penghalang mekanis, suhu tanah, aerasi, ketersediaan air dan ketersediaan unsur hara. Bentuk akar yang berupa silinder dan filament (panjang dan ramping) memberikan keuntungan bagi akar dalam menyerap air dan unsur hara. Bentuk silinder menyebabkan akar mampu mendorong matrik tanah dalam proses pertumbuhannya dan bentuk filament memungkinkan akar untuk menjelajah lebih luas volume tanah per unit volume akar, dibandingkan jika akar mempunyai bentuk lain. Wilayah eksplorasi yang lebih luas ini meningkatkan kemungkinan kontak antara permukaan akar dengan air dan unsur hara, terutama pada kondisi yang relative kering, karena pada kondisi ini pergerakan larutan tanah menuju permukaan akar akan sangat lambat (lakitan,1993).
            Tanah dengan keadaan tekstur dan struktur yang baik sangat menunjang keberhasilan usaha pertanian, struktur tanah yang dikehendaki tanaman adalah struktur tanah yang gembur mempunyai ruang pori yang berisi air dan udara sehingga penyerapan unsur hara dapat berjalan optimal (Lingga 1998). Menurut  Nyakpa dan Hasinah (1985).Pupuk kandang dapat menambah unsur hara dalam tanah sebagai penyediaan humus yang dapat memperbaiki struktur tanah dan mendorong kehidupan jasad renik tanah.

2.4  Lintasan Pergerakan Hara Menuju dan di Dalam Jaringan Akar
Unsur hara dapat kontak dengan permukaan akar melalui 3 cara yakni: secara difusi dalam larutan tanah, secara pasif terbawa oleh aliran air tanah, dan karena akar tumbuh kearah posisi hara tersebut dalam matriks tanah.
Gambar 2. Penyerapan unsur hara di akar

2.5  Prinsip Penyerapan Hara
            Ada 4 prinsip penyerapan unsur hara dalam bentuk ion oleh tumbuhan:
1.      Jika sel tidak melangsungkan metabolisme atau mati, maka membrannnya akan lebih mudah dilalui oleh bahan-bahan yang terlarut (solute)
2.      Molekul air dn gas-gas yang terlarut didalamnya, seperti N2, O2, dan CO2 dapat melalui membran dengan mudah.
3.      Bahan terlarut yang bersifat hidrofobik menembus membran dengan kemudahan sebanding dengan kelarutannya dalam lemak.
4.      Ion-ion atau molekul-molekul yang bersifat hidrofilik dengan tingkat kelarutan dalam lemak yang sama akan menembus membran dengan tingkat kemudahan yang berbanding terbalik dengan ukurannya (berat molekulnya)

2.6  Karakteristik Serapan Hara
Serapan unsur hara oleh tanaman memiliki beberapa karakteristik yang bersifat akumulatif, selektif, satu arah (uni directional) dan tidak dapat jenuh. Akumulatif yaitu tingginya konsentrasi unsur hara di dalam sel dibanding konsentrasi unsur hara diluar sel, ini akibat dari penyerapan unsur hara 2. Selektif Yaitu serapan suatu ion tidak dipengaruhi oleh adanya ion lain dengan muatan yang sama apalagi ion yang berbeda valensinya. Ini tidak hanya berlaku untuk ion saja namun juga untuk senyawa organik. Sifat ini tidak sepenuhnya benar, karena ada beberapa ion yang kadang mengalami hambatan karena kompetitif. 3. Satu Arah Ion yang masuk ke sitosol akan lebih dipacu dibanding keluar yang akan terhambat kecuali bila terjadi kebocoran membran akibat suhu tinggi atau yang lainnya. 4. Tidak Dapat Jenuh Serapan ion tidak mencapai tingkat jenuh sampai konsentrasi tinggi. Akan ada peran protein pembawa pada membran yang tidak akan mempengaruhi serapan.

2.7  Mekanisme Serapan Hara
Mekanisme penyediaan unsur hara dalam tanah melalui tiga mekanisme,
yaitu:
1.      Mekanisme Aliran Massa (Mass Flow)
Mekanisme aliran massa adalah suatu mekanisme gerakan unsur hara di dalam tanah menuju ke permukaan akar bersama-sama dengan gerakan massa air. Selama masa hidup tanaman mengalami peristiwa penguapan air yang dikenal dengan peristiwa transpirasi. Selama proses transpirasi tanaman berlangsung, terjadi juga proses penyerapan air oleh akar tanaman. Pergerakan massa air ke akar tanaman akibat langsung dari serapan massa air oleh akar tanaman terikut juga terbawa unsur hara yang terkandung dalam air tersebut. Peristiwa tersedianya unsur hara yang terkandung dalam air ikut bersama gerakan massa air ke permukaan akar tanaman dikenal dengan Mekanisme Aliran Massa. Unsur hara yang ketersediaannya bagi tanaman melalui mekanisme ini meliputi: nitrogen (98,8%), kalsium (71,4%), belerang (95,0%), dan Mo (95,2%).
Mekanisme aliran massa adalah suatu mekanisme gerakan unsur hara di dalam tanah menuju ke permukaan akar bersama- sama dengan gerakan massa air. Selama proses transpirasi tanaman berlangsung, terjadi juga proses penyerapan air oleh akar tanaman.  Terserapnya air karena adanya perbedaan potensial air yang disebabkan oleh proses transpirasi tersebut.  Nilai potensial air di dalam tanah lebih rendah dibandingkan dengan permukaan bulu akar sehingga air tanah masuk kedalam jaringan akar.  Pergerakan massa air ke akar tanaman akibat langsung dari serapan massa air oleh akar tanaman terikut juga unsur hara yang terkandung dalam air tersebut.
2.      Mekanisme Difusi
Ketersediaan unsur hara ke permukaan akar tanaman, dapat juga terjadi karena melalui mekanisme perbedaan konsentrasi. Konsentrasi unsur hara pada permukaan akar tanaman lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi hara dalam larutan tanah dan konsentrasi unsur hara pada permukaan koloid liat serta pada permukaan koloid organik. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar unsur hara tersebut telah diserap oleh akar tanaman. Tingginya konsentrasi unsur hara pada ketiga posisi tersebut menyebabkan terjadinya peristiwa difusi dari unsur hara berkonsentrasi tinggi ke posisi permukaan akar tanaman. Peristiwa pergerakan unsur hara yang terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi unsur hara tersebut dikenal dengan mekanisme penyediaan hara secara difusi. Beberapa unsur hara yang tersedia melalui mekanisme difusi ini, adalah: fosfor (90,9%) dan kalium (77,7%).
Difusi terjadi karena konsentrasi unsur hara pada permukaan akar tanaman lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi hara dalam larutan tanah dan konsentrasi unsur hara pada permukaan koloid liat serta pada permukaan koloid organik.  Kondisi ini terjadi karena sebagian besar unsur hara tersebut telah diserap oleh akar tanaman.  Tingginya konsentrasi unsur hara pada ketiga posisi tersebut menyebabkan terjadinya peristiwa difusi dari unsur hara berkonsentrasi tinggi ke posisi permukaan akar tanaman.
3.      Mekanisme Intersepsi Akar
Mekanisme yang terjadi adalah pergerakan akar tanaman yang memperpendek jarak dengan keberadaan unsur hara.  Peristiwa ini terjadi karena akar tanaman tumbuh dan memanjang, sehingga memperluas jangkauan akar tersebut. Perpanjangan akar tersebut menjadikan permukaan akar lebih mendekati posisi keberadaan unsur hara, baik unsur hara yang ada dalam larutan tanah, permukaan koloid liat, maupun permukaan koloid organik.
Mekanisme intersepsi akar sangat berbeda dengan kedua mekanisme sebelumnya. Kedua mekanisme sebelumnya menjelaskan pergerakan unsur hara menuju ke akar tanaman, sedangkan mekanisme ketiga ini menjelaskan gerakan akar tanaman yang memperpendek jarak dengan keberadaan unsur hara. Peristiwa ini terjadi karena akar tanaman tumbuh dan memanjang, sehingga memperluas jangkauan akar tersebut. Perpanjangan akar tersebut menjadikan permukaan akar lebih mendekati posisi dimana unsur hara berada, baik unsur hara yang berada dalam larutan tanah, permukaan koloid liat dan permukaan koloid organik. Mekanisme ketersediaan unsur hara tersebut dikenal sebagai mekanisme intersepsi akar. Unsur hara yang ketersediaannya sebagian besar melalui mekanisme ini adalah: kalsium (28,6%).




BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan seperti berikut.
1.      Akar merupakan organ tumbuhan yang berfungsi dalam penyerapan unsur hara
2.      Mikoriza berperan dalam mempermudah penyerapan unsur hara
3.      Penyerapan unsur hara memiliki karakteristik tertentu
4.      Unsur hara masuk ketumbuhan melalui 3 mekanisme yaitu: aliran massa, intersepsi akar, dan difusi.




DAFTAR PUSTAKA
Acehpedia. 2010. Bercocok Tanam. Cv. Sejahtera, Aceh.

Dwidjoseputro,  D.  1980.  Pengantar  Fisiologi  Tumbuhan.  Cetakan  keenam.  PT.Gramedia,  Jakarta.

Fitter, A. H. dan Hay R. K. M. 1981. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gadjah
               Mada University Press, Yogyakarta.

Hardjowigeno, Sarwono. 1989. Ilmu Tanah. Melton Putra, Jakarta.

Harjadi, S. S. 1979. Pengantar Agronomi.Gramedia, Jakarta.

Hardjanto, dkk. 1986. Bercocok Tanam. Yasaguna, Jakarta

Lakitan, Benyamin. 2010. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajawali Press. Jakarta

Hamim. 2007. Ekofisiologi Tanaman. Universitas Padjajaran. Bandung. B

Husin, E. F. 1994. Mikoriza. Fakultas Pertanian. Universitas Andalas, Padang.

Jumin,  H.  B.  1989.  Ekologi  Tanaman  Suatu  Pendekatan  Fisiologi.  Cetakan  kedua.  Rajawali 
Press,  Jakarta.                                                   

Kemas,  A.  H.   2007.  Dasar-dasar  Ilmu  Tanah.  PT.  Raja  Grafindo  Persada.  Jakarta.

Mayerni, R. dan D. Hervani. 2008. Pengaruh jamur mikoriza arbuskula terhadap pertumbuhan tanaman selasih (Ocimum sanctum L.). Jurnal Akta Agrosia 11: 7-12.

Mosse, B. 1981. Vesicular-Arbuskular Mycorrhiza for Tropical Agriculture. Hawaii Institute of Tropical Agriculture and Human Resources. University of Hawaii. 82 p.
Sutedjo, M, M., Kartasapoetra dan A, G.,Sastroatmodjo, S. 1996. Mikro Biologi Tanah. Rineka Cipta. Jakarta.   

Quilambo, O. A. 2003. Simbiosis mikoriza vesicular arbuscular. African Journal of Biotechnology 2: 539-546. (diterjemahkan  oleh  Susetyo,  S.,  Kismono,  S.  Harini).





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PENYERAPAN UNSUR HARA"

Posting Komentar