SESAR AKTIF SUMATERA MEMPENGARUHI ANCAMAN GEMPA BUMI DI SEPANJANG ZONA PATAHAN SUMATERA

Advertisement


Advertisement
Oleh : Rizki Amalia

Pendahuluan

Pulau Sumatera adalah salah satu pulau di Indonesia yang sering mengalami bencana gempa bumi, dimana gempa bumi merupakan salah satu bencana alam yang tidak dapat dicegah namun dapat diprediksi kehadirannya. Walaupun begitu, getaran yang ditimbulkan oleh gempa bumi selalu menimbulkan korban jiwa dan kerugian material. Gempa bumi sendiri terjadi akibat pergerakan lempeng (tektonik) maupun karena adanya pengaruh aktifitas gunung api (vulkanik) yang akan menghasilkan getaran dengan kekuatan tertentu sehingga berdampak pada aktifitas diatas permukaan bumi. Hal ini disebabkan karena Pulau Sumatera berada pada zona subduksi pertemuan dua lempeng besar. Pulau Sumatera juga berada di jalur dua sesar aktif yang sering menjadi pusat gempa yaitu Mentawai Fault System (MFS) dan Sumatera Fault System (SFS). Dalam hal ini aktifitas Sesar Sumatera sering menghasilkan getaran yang kuat sehingga berpotensi menjadi pusat gempa dengan magnituda tertentu. Sesar Sumatera terbagi menjadi 19 segmen yang terbentang disepanjang Pulau Sumatera dari Teluk Semangko di Lampung hingga Banda Aceh.

Geologi Pulau Sumatera

Secara umum, pulau Sumatera terbentuk oleh deretan kepulauan lepas disebelah baratnya yaitu kepulauan Mentawai, kepulauan Nias, dan kepulauan lainnya yang tersusun oleh batuan sedimen Tersier yang terletak diatas batuan metamorf, dan beberapa tempat yang diterobos oleh batuan beku mafik dan ultramafik. Ditengah pulau Sumatera terdapat busur vulkanik (magmatic arc) pada Pegunungan Bukit Barisan yang terbentuk oleh batuan sedimen berumur Mio-Pliosen, batuan metamorf, batuan granitik, serta terobosan batuan mafik dan vulkanik yang ditutupi oleh deretan gunung api yang sejajar dengan garis zona penunjaman. Serta di arah timurnya terdapat cekungan belakang busur vulkanik (fore land basin) dari batuan sedimen klastis batupasir, serpih napal, batulempung dan batugamping Oligocene-Pliosen, selanjutnya sebagai inti benua terbentuk oleh batuan metamorf Pra-Tersier.
Lempeng tektonik Indo-Australia dan lempeng Eurasia yang membentuk jalur subduksi yang memanjang dari pantai barat Sumatera sampai ke selatan Nusa Tenggara menghasilkan rangkaian busur pulau depan (forearch island) yang non vulkanik  (Pulau Simeulue, Nias, Banyak, Batu, Siberut hingga Pulau Enggano). Diantara kedua lempeng tersebut terdapat zona subduksi dangkal yang diprediksi masih menyimpan potensi gempa bumi sampai dengan 8,9 SR yang disebut dengan Mentawai Megathrust atau Megathrust Subduction Sumatera.
Aktivitas subduksi aktif dan patahan aktif di Sumatera membentuk jalur tinggian karena terjadinya pengangkatan kerak benua yang disebut Bukit Barisan yang arahnya sejajar dengan patahan. Di sepanjang jalur Bukit Barisan berderet-deret lembah dengan bentuk yang lurus memanjang, seperti lembah Semangko (Teluk Semangko di Lampung), Lembah Kepahiang, Ketahun, Kerinci, Muara Labuh, Singkarak Maninjau, Rokan Kiri, Gadis, Angkola, Alas, Tangse, dan Aceh. Lembah-lembah ini merupakan bagian zona lemah dari Patahan Besar Sumatera. Disini kulit bumi retak, dan satu sisi dengan sisi lainnya bergerak horizontal. Pergerakan pada umumnya ke kanan, yaitu blok timur bergerak ke tenggara dan blok barat sebaliknya.
Kemudian disebelah barat pantai Sumatera Barat terdapat sesar mendatar yang terjadi akibat adanya proses penujaman miring di sekitar Pulau Sumatera yang dikenal sebagai Sesar Mentawai. Sesar ini berada di laut memanjang disekitar pulau-pulau Mentawai yang terbentang dari wilayah selatan hingga ke utara dan menerus hingga ke sekitar utara Nias. Lalu tekanan yang diakibatkan oleh adanya lempeng India-Australia yang menabrak bagian barat pulau Sumatera secara miring, terbentuklah Sesar Sumatera atau biasa disebut dengan Sesar Semangko. Sesar ini membelah pulau Sumatera menjadi dua, yaitu terbentang mulai dari Lampung tepatnya dari teluk Semangko hingga Banda Aceh yang kemudian menerus sampai ke Laut Andaman hingga Burma.


Sesar  Sumatera Dan Segmen-Segmennya

Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia dengan arah miring 45( dan bergerak sekitar 50-70 cm/tahun, yang kemudian membentuk Sesar Sumatera yang terdiri dari banyak segmen yang beberapa diantara sangat aktif dan menjadi pusat gempa dengan amplitudo yang besar. Sesar ini merupakan sesar geser terpanjang di Indonesia, sesar ini mencapai kurang-lebih 1.900 km yang terbentang dari Selat Sunda ke arah utara hingga laut Andaman. Pergerakan lempeng Indo-Australia yang labil menabrak lempeng Eurasia yang relatif stabil, mengakibatkan tekanan yang sangat besar sehingga menghasilkan rekahan-rekahan yang membentuk sesar-sesar kecil di pulau Sumatera  Bagian  Barat   yang  secara perlahan akan membesar dan membentuk segmen-segmen besar dari Sesar Sumatera. Sesar Sumatera merupakan sesar strike slip berarah dekstral yang terdiri dari 20 segmen utama sepanjang tulang punggung Sumatera.
Wilayah-wilayah Sumatera yang berada diatas patahan ini sering mengalami gempa bumi dengan magnitudo yang besar. Bahkan daerah yang berada cukup jauh dari daerah pusat gempa akan merasakan getarannya, tergantung seberapa besar getaran yang ditimbulkan oleh gempa tersebut. Pergeseran sesar ini juga menghasilkan beberapa morfologi seperti terbentuknya danau dan perbukitan, serta adanya pergeseran terhadap beberapa rangkaian sungai (stream off set).
Sesar Sumatera terdiri dari 19 segmen disepanjang Pulau Sumatera yang masing-masing berpotensi menjadi pusat gempa. Segmen-segmen sesar itu adalah Segmen Seulimeum, Segmen Aceh, Segmen Tripa, Segmen Renun, Segmen Angkola, Segmen Toru, Segmen Barumun, Segmen Sempur, Segmen Sianok, Segmen Sumani, Segmen Suliti, Segmen Siulak, Segmen Dikit, Segmen Ketaun, Segmen Musi, Segmen Manna, Segmen Kumering, Segmen Semangko dan Segmen Sunda.

Zona Ancaman Gempa Di Pulau Sumatera

Pulau Sumatera yang berada di zona subduksi sekaligus dua sesar besar yang melintang sepanjang Pulau Sumatera membuat pulau ini menjadi rawan gempa. Contoh daerah pertama yang merupakan salah satu daerah rawan gempa di Pulau Sumatera yang diakibatkan oleh aktifitas tektonik Sesar Sumatera adalah Banda Aceh. Bencana tsunami tahun 2004 adalah salah satu dampak dari pergerakan Sesar ini. Sejak tahun 1973 hingga tahun 2004 tercatat 225 kejadian gempa bumi dengan magnituda > 5. Namun pada Desember 2004 hingga Oktober 2009 tercatat gempa bumi mengalami peningkatan secara drastis, yaitu terdapat 303 gempa bumi dengan magnituda > 5.
Daerah kedua yang sering terjadi gempa akibat pergeseran lempeng adalah Sumatera Barat. Sejarah panjang gempabumi merusak di Sumatera Barat, diantaranya adalah Gempabumi Padang (1822, 1835, 1981, 1991, 2005), Gempabumi  Singkarak (1943), Gempabumi Pasaman (1977) dan Gempabumi Agam (2003). Sedangkan gempabumi yang diikuti gelombang tsunami terjadi di Mentawai (1861) dan Sori-Sori (1904). Berdasarkan catatan sejarah, sudah sekitar 20 kali gempa besar melanda wilayah Sumatera Barat dalam kurun waktu 100 tahun.
Perlu jadi perhatian kita semua bahwa wilayah Sumatera Barat yang secara umum rawan terhadap bencana gempabumi, terdapat 12 Kabupaten/Kota dengan total 72 Kecamatan dan 408 Nagari dengan hampir 1.705.878 jiwa (berdasarkan sensus Penduduk 2010) berada pada zona ancaman atau zona bahaya tinggi. Jumlah jiwa terpapar tersebut akan semakin rentan ketika berada di daerah yang bertopografi terjal atau perbukitan  jiwa terpapar ancaman Gempa darat yang dangkal. Disamping itu hampir seluruh pemukiman di kecamatan-kecamatan yang berada di tengah-tengah Bukit Barisan berada di atas jalur Patahan Sumatera yang cenderung membentuk lembah-lembah dan dataran, artinya bahwa daerah-daerah tersebut berada pada zona ancaman/bahaya tinggi.

Kesimpulan

Sesar Sumatera terbagi atas 19 segmen yang sewaktu-waktu akan mengalami pergerakan dan mengahasilkan getaran yang akan terasa hingga ke permukaan atau yang lebih dikenal dengan gempa bumi.

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Teknik Geofisika, Jurusan Teknik Kebumian, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SESAR AKTIF SUMATERA MEMPENGARUHI ANCAMAN GEMPA BUMI DI SEPANJANG ZONA PATAHAN SUMATERA"

Posting Komentar