RANGKUMAN REPRODUKSI

Advertisement


Advertisement

Sistem Reproduksi materi hakiki kehidupan yang penting untuk eksistensi ada di lingkungan baik dengan cara vegetatif mauoun generatif nggak masalah yang penting bisa bertahan eksisi di lingkungan OK


Sisten reproduksi pria dan wanita
Pembahasan Sistem reproduksi pria meliputi 
  1. organ-organ reproduksi
  2. spermatogenesis 
  3. hormon pada pria.
Organ Reproduksi
Organ reproduksi pria terdiri atas organ reproduksi dalam dan organ reproduksi luar.
  1. Organ Reproduksi Dalam
  2. Organ Reproduksi Luar
Organ reproduksi dalam pria terdiri atas testis, saluran pengeluaran dan kelenjar asesoris.
  1. Testis
  2. Saluran Pengeluaran
Testis
  • Testis (gonad jantan) berbentuk oval dan terletak didalam kantung pelir (skrotum).
  • Testis berjumlah sepasang ( testes = jamak).
  • Testis terdapat di bagian tubuh sebelah kiri dan kanan. Testis kiri dan kanan dibatasi oleh suatu sekat yang terdiri dari serat jaringan ikat dan otot polos.
  • Fungsi testis secara umum merupakan alat untuk memproduksi sperma dan hormon kelamin jantan yang disebut testoteron.
Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari
  1. epididimis
  2. vas deferens
  3. saluran ejakulasi
  4. uretra.
Epididimis
  • Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar dari testis.
  • Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri.
  • Epididimis berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens.
Vas deferens
  • Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis.
  • Vas deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam kelenjar prostat.
  • Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat jalannya sperma dari epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).
Saluran ejakulasi
  • Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung semen dengan uretra.
  • Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke dalam uretra.
Uretra
  • Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis.
  • Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih.
Kelenjar Asesoris
  • Selama sperma melalui saluran pengeluaran, terjadi penambahan berbagai getah kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris.
  • Getah-getah ini berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan pergerakakan sperma.
Kelenjar asesoris merupakan kelenjar kelamin yang terdiri dari
  1. vesikula seminalis
  2. kelenjar prostat 
  3. kelenjar Cowper .
Vesikula seminalis
  • Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih.
  • Dinding vesikula seminalis menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.
Kelenjar prostat
  • Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah kantung kemih.
  • Kelenjar prostat menghasilkan getah yang mengandung kolesterol, garam dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma.
Kelenjar Cowper
  • Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra.
  • Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa)
Organ Reproduksi Luar
Organ reproduksi luar pria terdiri dari
  1. penis
  2. skrotum.
Penis.
  • Penis terdiri dari tiga rongga yang berisi jaringan spons.
  • Dua rongga yang terletak di bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa.
  • Satu rongga lagi berada di bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum yang membungkus uretra.
  • Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang rongga- rongganya banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa.
  • Bila ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi).
Skrotum
  • Skrotum (kantung pelir) merupakan kantung yang di dalamnya berisi testis.
  • Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri.
  • Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos).
  • Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur.
  • Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster.
  • Otot ini bertindak sebagai pengatur suhu lingkungan testis agar kondisinya stabil.
  • Proses pembentukan sperma (spermatogenesis) membutuhkan suhu yang stabil, yaitu beberapa derajat lebih rendah daripada suhu tubuh.
Spermatogenesis
  • Spermatogenesis terjadi di dalam di dalam testis, tepatnya pada tubulus seminiferus.
  • Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang mana bertujuan untuk membentu sperma fungsional.
  • Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis.
  • Dinding tubulus seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal (jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada saat spermatogenesis.
  • Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis.
  • Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia (spermatogonium = tunggal).
  • Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel tubulus seminiferus.
 
    • Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.Pada tahap pertama spermatogenesis, spermatogonia yang bersifat diploid (2n atau mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran epitel germinal yang disebut spermatogonia tipe A.
    • Spermatogenia tipe A membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B.
    • Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit primer yang masih bersifat diploid.
    • Setelah melewati beberapa minggu, setiap spermatosit primer membelah secara meiosis membentuk dua buah spermatosit sekunder yang bersifat haploid.
    • Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara meiosis membentuk empat buah spermatid.
    • Spermatid merupakan calon sperma yang belum memiliki ekor dan bersifat haploid (n atau mengandung 23 kromosom yang tidak berpasangan).
    • Setiap spermatid akan berdiferensiasi menjadi spermatozoa (sperma).
    • Proses perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi.
    • Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.
    • Kepala sperma terdiri dari sel berinti tebal dengan hanya sedikit sitoplasma.
    • Pada bagian membran permukaan di ujung kepala sperma terdapat selubung tebal yang disebut akrosom.
    • Akrosom mengandung enzim hialuronidase dan proteinase yang berfungsi untuk menembus lapisan pelindung ovum.
    • Pada ekor sperma terdapat badan sperma yang terletak di bagian tengah sperma. Badan sperma banyak mengandung mitokondria yang berfungsi sebagai penghasil energi untuk pergerakan sperma.
    • Semua tahap spermatogenesis terjadi karena adanya pengaruh sel-sel sertoli yang memiliki fungsi khusus untuk menyediakan makanan dan mengatur proses spermatogenesis.
    • Hormon pada Pria Proses spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormon, yaitu testoteron, LH (Luteinizing Hormone), FSH (Follicle Stimulating Hormone), estrogen dan hormon pertumbuhan. estoteron
    • Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder.


    LH (Luteinizing Hormone)
    • LH disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior.
    • LH berfungsi menstimulasi sel-sel Leydig untuk mensekresi testoteron
    FSH (Follicle Stimulating Hormone)
    • FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior dan berfungsi menstimulasi sel-sel sertoli.
    • Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid menjadi sperma (spermiasi) tidak akan terjadi.
    Estrogen
    • Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH.
    • Sel-sel sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat testoteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam cairan pada tubulus seminiferus.
    • Kedua hormon ini tersedia untuk pematangan sperma.
    Hormon Pertumbuhan
    • Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur fungsi metabolisme testis.
    • Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis.
    Gangguan pada Sistem Reproduksi Pria
    • Hipogonadisme
    • Hipogonadisme adalah penurunan fungsi testis yang disebabkan oleh gangguan interaksi hormon, seperti hormon androgen dan testoteron.
    • Gangguan ini menyebabkan infertilitas, impotensi dan tidak adanya tanda- tanda kepriaan. Penanganan dapat dilakukan dengan terapi hormon.
    Kriptorkidisme
    • Kriptorkidisme adalah kegagalan dari satu atau kedua testis untuk turun dari rongga abdomen ke dalam skrotum pada waktu bayi.
    • Hal tersebut dapat ditangani dengan pemberian hormon human chorionic gonadotropin untuk merangsang terstoteron. Jika belum turun juga, dilakukan pembedahan.
    Uretritis
    • Uretritis adalah peradangan uretra dengan gejala rasa gatal pada penis dan sering buang air kecil. Organisme yang paling sering menyebabkan uretritis adalah Chlamydia trachomatis, Ureplasma urealyticum atau virus herpes.
    Prostatitis
    • Prostatitis adalah peradangan prostat. Penyebabnya dapat berupa bakteri, seperti Escherichia coli maupun bukan bakteri.
    Epididimitis
    • Epididimitis adalah infeksi yang sering terjadi pada saluran reproduksi pria. Organisme penyebab epididimitis adalah E. coli dan Chlamydia.
    Orkitis
    • Orkitis adalah peradangan pada testis yang disebabkan oleh virus parotitis. Jika terjadi pada pria dewasa dapat menyebabkan infertilita
    SISTEM REPRODUKSI WANITA
    • Sistem reproduksi wanita meliputi organ reproduksi, oogenesis, hormon pada wanita, fertilisasi, kehamilan, persalinan dan laktasi.
    Organ Reproduksi

    Organ reproduksi wanita terdiri dari organ reproduksi dalam dan organ reproduksi luar.
    1. Organ reproduksi dalam
    2. Organ reproduksi luar
    Organ reproduksi dalam wanita terdiri dari ovarium dan saluran reproduksi (saluran kelamin).
    1. Ovarium
    2. Oviduk
    3. Uterus
    4. Vagina
    Ovarium (indung telur)
    • Ovarium (indung telur) berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan panjang 3 - 4 cm.
    • Ovarium berada di dalam rongga badan, di daerah pinggang.
    • Umumnya setiap ovarium menghasilkan ovum setiap 28 hari.
    • Ovum yang dihasilkan ovarium akan bergerak ke saluran reproduksi.
    • Fungsi ovarium yakni menghasilkan ovum (sel telur) serta hormon estrogen dan progesteron.
    Saluran reproduksi
    • Saluran reproduksi (saluran kelamin) terdiri dari oviduk, uterus dan vagina.
    Oviduk
    • Oviduk (tuba falopii) atau saluran telur berjumlah sepasang (di kanan dan kiri ovarium) dengan panjang sekitar 10 cm.
    • Bagian pangkal oviduk berbentuk corong yang disebut infundibulum.
    • Pada infundibulum terdapat jumbai-jumbai (fimbrae).
    • Fimbrae berfungsi menangkap ovum yang dilepaskan oleh ovarium.
    • Ovum yang ditangkap oleh infundibulum akan masuk ke oviduk.
    • Oviduk berfungsi untuk menyalurkan ovum dari ovarium menuju uterus.
    Uterus
    • Uterus (kantung peranakan) atau rahim merupakan rongga pertemuan oviduk kanan dan kiri yang berbentuk seperti buah pir dan bagian bawahnya mengecil yang disebut serviks (leher rahim).
    • Uterus manusia berfungsi sebagai tempat perkembangan zigot apabila terjadi fertilisasi.
    • Uterus terdiri dari dinding berupa lapisan jaringan yang tersusun dari beberapa lapis otot polos dan lapisan endometrium.
    • Lapisan endometrium (dinding rahim) tersusun dari sel-sel epitel dan membatasi uterus.
    • Lapisan endometrium menghasilkan banyak lendir dan pembuluh darah.
    • Lapisan endometrium akan menebal pada saat ovulasi (pelepasan ovum dari ovarium) dan akan meluruh pada saat menstruasi.
    Vagina
    • Vagina merupakan saluran akhir dari saluran reproduksi bagian dalam pada wanita.
    • Vagina bermuara pada vulva.
    • Vagina memiliki dinding yang berlipat-lipat dengan bagian terluar berupa selaput berlendir, bagian tengah berupa lapisan otot dan bagian terdalam berupa jaringan ikat berserat. Selaput berlendir (membran mukosa) menghasilkan lendir pada saat terjadi rangsangan seksual.
    • Lendir tersebut dihasilkan oleh kelenjar Bartholin.
    • Jaringan otot dan jaringan ikat berserat bersifat elastis yang berperan untuk melebarkan uterus saat janin akan dilahirkan dan akan kembali ke kondisi semula setelah janin dikeluarkan.
    Organ reproduksi luar
    • Organ reproduksi luar pada wanita berupa vulva.
    • Vulva merupakan celah paling luar dari organ kelamin wanita.
    • Vulva terdiri dari mons pubis. Mons pubis (mons veneris) merupakan daerah atas dan terluar dari vulva yang banyak menandung jaringan lemak.
    • Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi oleh rambut.
    • Di bawah mons pubis terdapat lipatan labium mayor (bibir besar) yang berjumlah sepasang.
    • Di dalam labium mayor terdapat lipatan labium minor (bibir kecil) yang juga berjumlah sepasang.
    • Labium mayor dan labium minor berfungsi untuk melindungi vagina.
    • Gabungan labium mayor dan labium minor pada bagian atas labium membentuk tonjolan kecil yang disebut klitoris.
    • Klitoris merupakan organ erektil yang dapat disamakan dengan penis pada pria.
    • Meskipun klitoris secara struktural tidak sama persis dengan penis, namun klitoris juga mengandung korpus kavernosa.
    • Pada klitoris terdapat banyak pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa.
    • Pada vulva bermuara dua saluran, yaitu saluran uretra (saluran kencing) dan saluran kelamin (vagina).
    • Pada daerah dekat saluran ujung vagina terdapat himen atau selaput dara. Himen merupakan selaput mukosa yang banyak mengandung pembuluh darah.
    Oogenesis
    • Oogenesis merupakan proses pembentukan ovum di dalam ovarium.
    • Di dalam ovarium terdapat oogonium (oogonia = jamak) atau sel indung telur.
    • Oogonium bersifat diploid dengan 46 kromosom atau 23 pasang kromosom.
    • Oogonium akan memperbanyak diri dengan cara mitosis membentuk oosit primer.
    • Oogenesis telah dimulai saat bayi perempuan masih di dalam kandungan, yaitu pada saat bayi berusia sekitar 5 bulan dalam kandungan.
    • Pada saat bayi perempuan berumur 6 bulan, oosit primer akan membelah secara meiosis.
    • Namun, meiosis tahap pertama pada oosit primer ini tidak dilanjutkan sampai bayi perempuan tumbuh menjadi anak perempuan yang mengalami pubertas.
    • Oosit primer tersebut berada dalam keadaan istirahat (dorman).
    • Pada saat bayi perempuan lahir, di dalam setiap ovariumnya mengandung sekitar 1 juta oosit primer.
    • Ketika mencapai pubertas, anak perempuan hanya memiliki sekitar 200 ribu oosit primer saja.
    • Sedangkan oosit lainnya mengalami degenerasi selama pertumbuhannya.
    • Saat memasuki masa pubertas, anak perempuan akan mengalami perubahan hormon yang menyebabkan oosit primer melanjutkan meiosis tahap pertamanya.
    • Oosit yang mengalami meiosis I akan menghasilkan dua sel yang tidak sama ukurannya.
    • Sel oosit pertama merupaakn oosit yang berukuran normal (besar) yang disebut oosit sekunder, sedangkan sel yang berukuran lebih kecil disebut badan polar pertama (polosit primer).
    • Selanjutnya , oosit sekunder meneruskan tahap meiosis II (meiosis kedua).
    • Namun pada meiosis II, oosit sekunder tidak langsung diselesaikan sampai tahap akhir, melainkan berhenti sampai terjadi ovulasi.
    • Jika tidak terjadi fertilisasi, oosit sekunder akan mengalami degenerasi.
    • Namun jika ada sperma masuk ke oviduk, meiosis II pada oosit sekunder akan dilanjutkan kembali.
    • Akhirnya, meiosis II pada oosit sekunder akan menghasilkan satu sel besar yang disebut ootid dan satu sel kecil yang disebut badan polar kedua (polosit sekunder).
    • Badan polar pertama juga membelah menjadi dua badan polar kedua.
    • Akhirnya, ada tiga badan polar dan satu ootid yang akan tumbuh menjadi ovum dari oogenesis setiap satu oogonium.
    • Oosit dalam oogonium berada di dalam suatu folikel telur.
    • Folikel telur (folikel) merupakan sel pembungkus penuh cairan yang menglilingi ovum.
    • Folikel berfungsi untuk menyediakan sumber makanan bagi oosit.
    • Folikel juga mengalami perubahan seiring dengan perubahan oosit primer menjadi oosit sekunder hingga terjadi ovulasi. Folikel primer muncul pertama kali untuk menyelubungi oosit primer.
    • Selama tahap meiosis I pada oosit primer, folikel primer berkembang menjadi folikel sekunder. Pada saat terbentuk oosit sekunder, folikel sekunder berkembang menjadi folikel tersier.
    • Pada masa ovulasi, folikel tersier berkembang menjadi folikel de Graaf (folikel matang). Setelah oosit sekunder lepas dari folikel, folikel akan berubah menjadi korpus luteum. Jika tidak terjaid fertilisasi, korpus luteum akan mengkerut menjadi korpus albikan.
    Hormon pada Wanita
    • Pada wanita, peran hormon dalam perkembangan oogenesis dan perkembangan reproduksi jauh lebih kompleks dibandingkan pada pria.
    • Salah satu peran hormon pada wanita dalam proses reproduksi adalah dalam siklus menstruasi.
    Siklus menstruasi
    • Menstruasi (haid) adalah pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus yang disertai pelepasan endometrium.
    • Menstruasi terjadi jika ovum tidak dibuahi oleh sperma. Siklus menstruasi sekitar 28 hari.
    • Pelepasan ovum yang berupa oosit sekunder dari ovarium disebut ovulasi, yang berkaitan dengan adanya kerjasama antara hipotalamus dan ovarium.
    • Hasil kerjasama tersebut akan memacu pengeluaran hormon-hormon yang mempengaruhi mekanisme siklus menstruasi.
    • Untuk mempermudah penjelasan mengenai siklus menstruasi, patokannya adalah adanya peristiwa yang sangat penting, yaitu ovulasi.
    • Ovulasi terjadi pada pertengahan siklus (½ n) menstruasi.
    • Untuk periode atausiklus hari pertama menstruasi, ovulasi terjadi pada hari ke-14 terhitung sejak hari pertama menstruasi.
    Siklus menstruasi dikelompokkan menjadi empat fase, yaitu fase menstruasi,
    1. fase pra-ovulasi,
    2. fase ovulasi
    3. fase pasca-ovulasi.
    4. Fase menstruasi
    • Fase menstruasi terjadi bila ovum tidak dibuahi oleh sperma, sehingga korpus luteum akan menghentikan produksi hormon estrogen dan progesteron.
    • Turunnya kadar estrogen dan progesteron menyebabkan lepasnya ovum dari dinding uterus yang menebal (endometrium).
    • Lepasnya ovum tersebut menyebabkan endometrium sobek atau meluruh, sehingga dindingnya menjadi tipis.
    • Peluruhan pada endometrium yang mengandung pembuluh darah menyebabkan terjadinya pendarahan pada fase menstruasi.
    • Pendarahan ini biasanya berlangsung selama lima hari.
    • Volume darah yang dikeluarkan rata-rata sekitar 50mL.
    Fase pra-ovulasi
    • Pada fase pra-ovulasi atau akhir siklus menstruasi, hipotalamus mengeluarkan hormon gonadotropin.
    • Gonadotropin merangsang hipofisis untuk mengeluarkan FSH.
    • Adanya FSH merangsang pembentukan folikel primer di dalam ovarium yang mengelilingi satu oosit primer.
    • Folikel primer dan oosit primer akan tumbuh sampai hari ke-14 hingga folikel menjadi matang atau disebut folikel de Graaf dengan ovum di dalamnya.
    • Selama pertumbuhannya, folikel juga melepaskan hormon estrogen.
    • Adanya estrogen menyebabkan pembentukan kembali (proliferasi) sel-sel penyusun dinding dalam uterus dan endometrium.
    • Peningkatan konsentrasi estrogen selama pertumbuhan folikel juga mempengaruhi serviks untuk mengeluarkan lendir yang bersifta basa.
    • Lendir yang bersifat basa berguna untuk menetralkan sifat asam pada serviks agar lebih mendukung lingkungan hidup sperma.
    Fase ovulasi
    • Pada saat mendekati fase ovulasi atau mendekati hari ke-14 terjadi perubahan produksi hormon.
    • Peningkatan kadar estrogen selama fase pra-ovulasi menyebabkan reaksi umpan balik negatif atau penghambatan terhadap pelepasan FSH lebih lanjut dari hipofisis.
    • Penurunan konsentrasi FSH menyebabkan hipofisis melepaskan LH.
    • LH merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf.
    • Pada saat inilah disebut ovulasi, yaitu saat terjadi pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf dan siap dibuahi oleh sperma.
    • Umunya ovulasi terjadi pada hari ke-14.
    Fase pasca-ovulasi
    • Pada fase pasca-ovulasi, folikel de Graaf yang ditinggalkan oleh oosit sekunder karena pengaruh LH dan FSH akan berkerut dan berubah menjadi korpus luteum.
    • Korpus luteum tetap memproduksi estrogen (namun tidak sebanyak folikel de Graaf memproduksi estrogen) dan hormon lainnya, yaitu progesteron.
    • Progesteron mendukung kerja estrogen dengan menebalkan dinding dalam uterus atau endometrium dan menumbuhkan pembuluh-pembuluh darah pada endometrium.
    • Progesteron juga merangsang sekresi lendir pada vagina dan pertumbuhan kelenjar susu pada payudara.
    • Keseluruhan fungsi progesteron (juga estrogen) tersebut berguna untuk menyiapkan penanaman (implantasi) zigot pada uterus bila terjadi pembuahan atau kehamilan.
    Proses pasca-ovulasi ini berlangsung dari hari ke-15 sampai hari ke-28. Namun, bila sekitar hari ke-26 tidak terjadi pembuahan, korpus luteum akan berubah menjadi korpus albikan.
    • Korpus albikan memiliki kemampuan produksi estrogen dan progesteron yang rendah, sehingga konsentrasi estrogen dan progesteron akan menurun.
    • Pada kondisi ini, hipofisis menjadi aktif untuk melepaskan FSH dan selanjutnya LH, sehingga fase pasca-ovulasi akan tersambung kembali dengan fase menstruasi berikutnya.
    Fertilisasi
    • Fertilisasi atau pembuahan terjadi saat oosit sekunder yang mengandung ovum dibuahi oleh sperma.
    • Fertilisasi umumnya terjadi segera setelah oosit sekunder memasuki oviduk. Namun, sebelum sperma dapat memasuki oosit sekunder, pertama-tama sperma harus menembus berlapis-lapis sel granulosa yang melekat di sisi luar oosit sekunder yang disebut korona radiata.
    • Kemudian, sperma juga harus menembus lapisan sesudah korona radiata, yaitu zona pelusida.
    • Zona pelusida merupakan lapisan di sebelah dalam korona radiata, berupa glikoprotein yang membungkus oosit sekunder.
    • Sperma dapat menembus oosit sekunder karena baik sperma maupun oosit sekunder saling mengeluarkan enzim dan atau senyawa tertentu, sehingga terjadi aktivitas yang saling mendukung.
    • Pada sperma, bagian kromosom mengeluarkan: hialuronidase
    • Enzim yang dapat melarutkan senyawa hialuronid pada korona radiata.
    • akrosin Protease yang dapat menghancurkan glikoprotein pada zona pelusida.
    • antifertilizin Antigen terhadap oosit sekunder sehingga sperma dapat melekat pada oosit sekunder.
    • Oosit sekunder juga mengeluarkan senyawa tertentu, yaitu fertilizin yang tersusun dari glikoprotein
    fungsi fertilizin :
    1. Mengaktifkan sperma agar bergerak lebih cepat.
    2. Menarik sperma secara kemotaksis positif.
    3. Mengumpulkan sperma di sekeliling oosit sekunder.
    Pada saat satu sperma menembus oosit sekunder, sel-sel granulosit di bagian korteks oosit sekundermengeluarkan senyawa tertentu yang menyebabkan zona pelusida tidak dapat ditembus oleh sperma lainnya.
    • Adanya penetrasi sperma juga merangsang penyelesaian meiosis II pada inti oosit sekunder , sehingga dari seluruh proses meiosis I sampai penyelesaian meiosis II dihasilkan tiga badan polar dan satu ovum yang disebut inti oosit sekunder.
    • Segera setelah sperma memasuki oosit sekunder, inti (nukleus) pada kepala sperma akan membesar.
    • Sebaliknya, ekor sperma akan berdegenerasi. Kemudian, inti sperma yang mengandung 23 kromosom (haploid) dengan ovum yang mengandung 23 kromosom (haploid) akan bersatu menghasilkan zigot dengan 23 pasang kromosom (2n) atau 46 kromosom.
    Gestasi (Kehamilan)
    • Zigot akan ditanam (diimplantasikan) pada endometrium uterus. Dalam perjalannya ke uterus, zigot membelah secara mitosis berkali-kali.
    • Hasil pembelahan tersebut berupa sekelompok sel yang sama besarnya, dengan bentuk seperti buah arbei yang disebut tahap morula.
    • Morula akan terus membelah sampai terbentuk blastosit.
    • Tahap ini disebut blastula, dengan rongga di dalamnya yang disebut blastocoel (blastosol).
    Blastosit terdiri dari sel-sel bagian luar dan sel-sel bagian dalam.
    • Sel-sel bagian luar blastosit Sel-sel bagian luar blastosit merupakan sel-sel trofoblas yang akan membantu implantasi blastosit pada uterus.
    • Sel-sel trofoblas membentuk tonjolan-tonjolan ke arah endometrium yang berfungsi sebagai kait.
    • Sel-sel trofoblas juga mensekresikan enzim proteolitik yang berfungsi untuk mencerna serta mencairkan sel-sel endometrium.
    • Cairan dan nutrien tersebut kemudian dilepaskan dan ditranspor secara aktif oleh sel-sel trofoblas agar zigot berkembang lebih lanjut.
    • Kemudian, trofoblas beserta sel-sel lain di bawahnya akan membelah (berproliferasi) dengan cepat membentuk plasenta dan berbagai membran kehamilan.
    • Berbagai macam membran kehamilan berfungsi untuk membantu proses transportasi, respirasi, ekskresi dan fungsi-fungsi penting lainnya selama embrio hidup dalam uterus.
    • Selain itu, adanya lapisan-lapisan membran melindungi embrio terhadap tekanan mekanis dari luar, termasuk kekeringan.
    Sakus vitelinus
    • Sakus vitelinus (kantung telur) adalah membran berbentuk kantung yang pertama kali dibentuk dari perluasan lapisan endoderm (lapisan terdalam pada blastosit).
    • Sakus vitelinus merupakan tempat pembentukan sel-sel darah dan pembuluh-pembuluh darah pertama embrio.
    • Sakus vitelinus berinteraksi dengan trofoblas membentuk korion.
    Korion
    • Korion merupakan membran terluar yang tumbuh melingkupi embrio.
    • Korion membentuk vili korion (jonjot- jonjot) di dalam endometrium.
    • Vili korion berisi pembuluh darah emrbrio yang berhubungan dengan pembuluh darah ibu yang banyak terdapat di dalam endometrium uterus.
    • Korion dengan jaringan endometrium uterus membentuk plasenta, yang merupakan organ pemberi nutrisi bagi embrio.
    Amnion
    • Amnion merupakan membran yang langsung melingkupi embrio dalam satu ruang yang berisi cairan amnion (ketuban).
    • Cairan amnion dihasilkan oleh membran amnion.
    • Cairan amnion berfungsi untuk menjaga embrio agar dapat bergerak dengan bebas, juga melindungi embrio dari perubahan suhu yang drastis serta guncangan dari luar.
    Alantois
    • Alantois merupakan membran pembentuk tali pusar (ari-ari).
    • Tali pusar menghubungkan embrio dengan plasenta pada endometrium uterus ibu.
    • Di dalam alantois terdapat pembuluh darah yang menyalurkan zat-zat makanan dan oksigen dari ibu dan mengeluarkan sisa metabolisme, seperti karbon dioksida dan urea untuk dibuang oleh ibu.
    • Sel-sel bagian dalam blastosit
    • Sel-sel bagian dalam blastosit akan berkembang menjadi bakal embrio (embrioblas). Pada embrioblas terdapat lapisan jaringan dasar yang terdiri dari lapisan luar (ektoderm) dan lapisan dalam (endoderm).
    • Permukaan ektoderm melekuk ke dalam sehingga membentuk lapisan tengah (mesoderm).
    • Selanjutnya, ketiga lapisan tersebut akan berkembang menjadi berbagai organ (organogenesis) pada minggu ke-4 sampai minggu ke-8.
    • Ektoderm akan membentuk saraf, mata, kulit dan hidung.
    • Mesoderm akan membentuk tulang, otot, jantung, pembuluh darah, ginjal, limpa dan kelenjar kelamin.
    • Endoderm akan membentuk organ-organ yang berhubungan langsung dengan sistem pencernaan dan pernapasan.
    • Selanjutnya, mulai minggu ke-9 sampai beberapa saat sebelum kelahiran, terjadi penyempurnaan berbagai organ dan pertumbuhan tubuh yang pesat.
    • Masa ini disebut masa janin atau masa fetus.
    Persalinan
    • Persalinan merupakan proses kelahiran bayi.
    • Pada persalinan, uterus secara perlahan menjadi lebih peka sampai akhirnya berkontraksi secara berkala hingga bayi dilahirkan.
    • Penyebab peningkatan kepekaan dan aktifitas uterus sehingga terjadi kontraksi yang dipengaruhi faktor-faktor hormonal dan faktor-faktor mekanis.
    • Hormon-hormon yang berpengaruh terhadap kontraksi uterus, yaitu estrogen, oksitosin, prostaglandin dan relaksin.
    Estrogen
    • Estrogen dihasilkan oleh plasenta yang konsentrasinya meningkat pada saat persalinan. Estrogen berfungsi untuk kontraksi uterus.
    Oksitosin
    • Oksitosin dihasilkan oleh hipofisis ibu dan janin. Oksitosin berfungsi untuk kontraksi uterus.
    Prostaglandin
    • Prostaglandin dihasilkan oleh membran pada janin.
    • Prostaglandin berfungsi untuk meningkatkan intensitas kontraksi uterus.
    Relaksin
    • Relaksin dihasilkan oleh korpus luteum pada ovarium dan plasenta.
    • Relaksin berfungsi untuk relaksasi atau melunakkan serviks dan melonggarkan tulang panggul sehingga mempermudah persalinan.
    Laktasi
    • Kelangsungan bayi yang baru lahir bergantung pada persediaan susu dari ibu.
    • Produksi air susu (laktasi) berasal dari sepasang kelenjar susu (payudara) ibu.
    • Sebelum kehamilan, payudara hanya terdiri dari jaringan adiposa (jaringan lemak) serta suatu sistem berupa kelenjar susu dan saluran-saluran kelenjar (duktus kelenjar) yang belum berkembang.
    • Pada masa kehamilan, pertumbuhan awal kelenjar susu dirancang oleh mammotropin.
    • Mammotropin merupakan hormon yang dihasilkan dari hipofisis ibu dan plasenta janin.
    • Selain mammotropin, ada juga sejumlah besar estrogen dan progesteron yang dikeluarkan oleh plasenta, sehingga sistem saluran-saluran kelenjar payudara tumbuh dan bercabang.
    • Secara bersamaan kelenjar payudara dan jaringan lemak disekitarnya juga bertambah besar.
    • Walaupun estrogen dan progesteron penting untuk perkembangan fisik kelenjar payudara selama kehamilan, pengaruh khusus dari kedua hormon ini adalah untuk mencegah sekresi dari air susu.
    • Sebaliknya, hormon prolaktin memiliki efek yang berlawanan, yaitu meningkatkan sekresi air susu.
    • Hormon ini disekresikan oleh kelenjar hipofisis ibu dan konsentrasinya dalam darah ibu meningkat dari minggu ke-5 kehamilan sampai kelahiran bayi. Selain itu, plasenta mensekresi sejumlah besar somatomamotropin korion manusia, yang juga memiliki sifat laktogenik ringan, sehingga menyokong prolaktin dari hipofisis ibu.
    Gangguan pada Sistem Reproduksi Wanita
    • Gangguan menstruasi
    • Gangguan menstruasi pada wanita dibedakan menjadi dua jenis, yaitu amenore primer dan amenore sekunder.
    • Amenore primer adalah tidak terjadinya menstruasi sampai usia 17 tahun dengan atau tanpa perkembangan seksual.
    • Amenore sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama 3 – 6 bulan atau lebih pada orang yang tengah mengalami siklus menstruasi.
    Kanker genitalia
    • Kanker genitalia pada wanita dapat terjadi pada vagina, serviks dan ovarium.
    Kanker vagina
    • Kanker vagina tidak diketahui penyebabnya tetapi kemungkinan terjadi karena iritasi yang diantaranya disebabkan oleh virus. Pengobatannya antara lain dengan kemoterapi dan bedah laser.
    • Kanker serviks Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel abnormal tumbuh di seluruh lapisan epitel serviks.
    • Penanganannya dilakukan dengan mengangkat uterus, oviduk, ovarium, sepertiga bagian atas vagina dan kelenjar limfe panggul.
    Kanker ovarium
    • Kanker ovarium memiliki gejala yang tidak jelas.
    • Dapat berupa rasa berat pada panggul, perubahan fungsi saluran pencernaan atau mengalami pendarahan vagina abnormal.
    • Penanganan dapat dilakukan dengan pembedahan dan kemoterapi.
    Endometriosis
    • Endometriosis adalah keadaan dimana jaringan endometrium terdapat di luar uterus, yaitu dapat tumbuh di sekitar ovarium, oviduk atau jauh di luar uterus, misalnya di paru-paru.
    • Gejala endometriosis berupa nyeri perut, pinggang terasa sakit dan nyeri pada masa menstruasi.
    • Jika tidak ditangani, endometriosis dapat menyebabkan sulit terjadi kehamilan.
    • Penanganannya dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan, laparoskopi atau bedah laser.
    • Infeksi vagina Gejala awal infeksi vagina berupa keputihan dan timbul gatal-gatal. Infeksi vagina menyerang wanita usia produktif. Penyebabnya antara lain akibat hubungan kelamin, terutama bila suami terkena infeksi, jamur atau bakteri.
    PENYAKIT MENULAR LEWAT HUBUNGA N SEKSUAL
    Penyakit menular seksual adalah penyakit yang dapat ditularkan dari seseorang kepada orang lain melalui hubungan seksual
    • Seseorang berisiko tinggi terkena PMS bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal.
    • Bila tidak diobati dengan benar, penyakit ini dapat berakibat serius bagi kesehatan reproduksi, seperti terjadinya kemandulan, kebutaan pada bayi yang baru lahir bahkan kematian.
    Tanda dan gejala PMS
    • Karena bentuk dan letak alat kelamin laki-laki berada di luar tubuh, gejala PMS lebih mudah dikenali, dilihat dan dirasakan.
    • Tanda-tanda PMS pada laki-laki antara lain:
    1. berupa bintil-bintil berisi cairan
    2. lecet atau borok pada penis/alat kelamin
    3. luka tidak sakit
    4. keras dan berwarna merah pada alat kelamin
    5. adanya kutil atau tumbuh daging seperti jengger ayam
    6. rasa gatal yang hebat sepanjang alat kelamin
    7. rasa sakit yang hebat pada saat kencing
    8. kencing nanah atau darah yang berbau busuk
    9. bengkak panas dan nyeri pada pangkal paha yang kemudian berubah menjadi borok.
    Pada perempuan sebagian besar tanpa gejala sehingga sering kali tidak disadari. Jika ada gejala, biasanya berupa antara lain:
    1. rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau berhubungan seksual
    2. rasa nyeri pada perut bagian bawah
    3. pengeluaran lendir pada vagina/alat kelamin
    4. keputihan berwarna putih susu, bergumpal dan disertai rasa gatal dan kemerahan pada alat kelamin atau sekitarnya
    5. keputihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk, dan gatal
    6. timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seksual
    7. bintil-bintil berisi cairan
    8. lecet atau borok pada alat kelamin.
    Cara menghindarkan diri dari PMS
    • Bagi remaja yang belum menikah, cara yang paling ampuh adalah tidak melakukan hubungan seksual, saling setia bagi pasangan yang sudah menikah, hindari hubungan seksual yang tidak aman atau berisiko, selalu menggunakan kondom untuk mencegah penularan PMS, selalu menjaga kebersihan alat kelamin.
    • Jenis-jenis PMS. Ada banyak macam penyakit yang bisa digolongkan sebagai PMS.
    • Di Indonesia yang banyak ditemukan saat ini adalah gonore (GO), sifilis (raja singa), herpes kelamin, klamidia, trikomoniasis, kandidiasis vagina, kutil kelamin.
    Pengobatan PMS
    • Kebanyakan PMS dapat diobati, namun ada beberapa yang tidak bisa diobati secara tuntas seperti HIV/AIDS dan herpes kelamin.
    • Jika kita terkena PMS, satu-stunya cara adalah berobat ke dokter atau tenaga kesehatan.
    • Jangan mengobati diri sendiri. Selain itu, pasangan kita juga harus diobati agar tidak saling menularkan kembali penyakit tersebut.
    • Mitos-mitos seputar PMS.
    • Perlu diketahui bahwa PMS tidak dapat dicegah hanya dengan memilih pasangan yang kelihatan bersih penampilannya, mencuci alat kelamin setelah berhubungan seksual, minum jamu-jamuan, minum antibiotik sebelum dan sesudah berhubungan seks.
    Sifilis
    • Sifilis adalah suatu penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, bentuknya sangat kecil.
    • Bakteri tersebut umumnya hidup di mukosa (saluran) genetalia, rektum, dan mulut yang hangat dan basah.
    • Bakteri penyebab sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks oral).
    • Sifilis tidak ditularkan tanpa hubungan seksual, apalagi melalui benda mati seperti misalnya bangku, tempat duduk toilet, handuk, gelas, atau benda-benda lain yang bekas digunakan atau dipakai oleh pengindap.
    • Sifilis merupakan penyakit kronis yang berkembang lewat beberapa stadium.
    1. Sifilis primer
    2. Sifilis sekunder
    3. Sifilis laten
    Gambaran klinis:

    Sifilis primer
    Sifilis primer, tanda klinis yang pertama muncul adalah tukak, dapat terjadi di mana saja di daerah genitalia eksterna, 3 minggu setelah kontak.
    1. Lesi dapat khas, akan tetapi dapat juga tidak khas.
    2. Jumlah tukak biasanya hanya satu, meskipun dapat juga multipel.
    3. Lesi awal biasanya berupa papul yang mengalami erosi, teraba keras karena terdapat indurasi, Permukaan dapat tertutup krusta dan terjadi ulserasi.
    Sifilis sekunder
    • Sifilis sekunder, berupa berbagai ruam pada kulit, selaput lendir, dan organ tubuh. Dapat disertai demam, malaise.
    • Juga adanya kelainan kulit dan selaput lendir dapat diduga sifilis sekunder.
    Sifilis Laten
    • Sifilis laten merupakan stadium sifilis tanpa gejala klinis, akan tetapi pemeriksaan serologis reaktif.
    • Dalam perjalanan penyakit sifilis selalu melalui tingkat laten, selama bertahun-tahun atau seumur hidup.
    • Diagnosis sifilis laten ditegakkan setelah diperoleh anamnesis yang jelas, hasil pemeriksaan fisik yang menunjukkan adanya kelainan yang awal mulanya di sebabkan oleh sifilis.
    Sifilis lanjut
    • Sifilis lanjut berupa endorteritis obliterans pada bagian ujung arteriol dan pembuluh darah kecil yang menyebabkan peradangan dan nekrosis.

    Trikomoniasis

    • Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan sering menyerang saluran kencing bagian bawah pada wanita.
    • Masa tunas Trichomonas vaginalis sulit untuk dipastikan, tetapi diperkirakan berkisar antara 3 sampai 28 hari.
    • Pada wanita sering tidak menunjukkan keluhan maupun gejala sama sekali.
    • Bila ada keluhan biasanya berupa lendir vagina yang banyak dan berbau.
    • Lendir vagina yang klasik berwarna kehijauan dan berbusa, biasanya hanya ditemukan pada 10 – 30% penderita.
    • Lendir vagina sering menimbulkan rasa gatal dan perih pada vulva serta kulit sekitarnya.
    • Keluhan lain yang mungkin terjadi adalah pendarahan setelah melakukan hubungan kelamin dan perdarahan diantara menstruasi.
    • Pada pemeriksaan penderita dengan gejala vaginitis akut, tampak edema dan eritema pada labium yang terasa nyeri, sedangkan pada vulva dan paha bagian atas kadang-kadang ditemukan abses-abses kecil dan maserasi yang disebabkan oleh fermen proteolitik dalam tubuh.

    Kandidiasis

    • Kandidiasis adalah infeksi saluran kelamin yang disebabkan oleh Candida albicans dan ragi (Yeast) lain dari genus kandida.
    • Infeksi biasanya bersifat local. Selain pada vulva atau vagina, juga pada hidung, mulut, tenggorok, usus, dan kulit.
    • Candida adalah mikroorganisme oportunis, dapat dijumpai di seluruh badan, terutama dalam mulut, kolon, kuku, vagina, dan saluran anorektal.
    • Gejala yang biasanya muncul pada kandidosis adalah keluhan panas, atau iritasi pada vulva dan keputihan yang tidak berbau.
    Pada pemeriksaan terdapat vulvitis, dengan eritema dan edema vulva, fisura perineal, pseudomembran dan lesi satelit papulopustular disekitarnya.
    • Gejala khas adalah rasa gatal atau iritasi disertai keputihan tidak berbau, atau berbau asam (masam).
    • Keputihan biasa banyak, putih keju atau seperti kepala susu atau krim.
    • Tetapi kebanyakkan sedikit dan cair, atau seperti susu pecah.
    • Pada dinding vagina biasanya dijumpai gumpalan keju.
    • Pada vulva atau vagina terdapat radang, disertai maserasi, pseudomembran fisura dan lesi satelit papulopostular.

    Gonorhoe

    • Gonore (GO) adalah penyakit menular seksual (PMS), yang disebabkan oleh kuman yang bernama Neisseria gonorrhoaea yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum (usus bagian bawah), tenggorokan maupun bagian putih mata (Gonorhoaea Conjugtiva).
    • Gonore bisa menyebar melalui aliran darah kebagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian.
    • Pada wanita, gonore bisa naik ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam panggul sehingga menimbulkan nyeri panggul dan gangguan reproduksi.
    • Diperkirakan terdapat lebih dari 150 juta kasus gonore di dunia setiap tahunnya, meskipun di beberapa negara cenderung menurun, namun negara lainnya cenderung meningkat.
    • Penularan penyakit gonore (GO) yang lazimnya terjadi, adalah dengan melakukan hubungan seks ataupun dengan variasinya antara lain: oral seks (terjadinya faringitis GO), anal-seks (terjadinya proktitis GO) juga terjadinya gonoblenorrhoea pada mata bayi yang baru lahir dari ibu-ibu yang menderita GO ataupun terjadinya kolpitis GO pada bayi atau anak wanita karena orang tua atau pengasuh yang merawat sehariharinya menderita GO adalah merupakan cara penularan lain yang dapat terjadi karena hidup yang tidak higienis.
    Ciri-ciri orang yang terkena gonore adalah:
    • apabila pria, ia akan merasa panas ketika buang air kecil (kencing), dan bila diamati, ternyata setelah mengeluarkan air seni, dari ujung alat kelaminnya akan terlihat adanya nanah yang ikut terbawa keluar.
    • Pada wanita gonore umumnya tidak menimbulkan rasa panas atau sakit, terkecuali jika ia terjangkit penyakit keputihan dengan gejala keluarnya semacam lendir atau cairan kuning kehijau-hijauan (semacam nanah), dalam jumlah yang cukup banyak.
    • Selain menimbulkan rasa panas dan bernanah, gonore juga dapat menyebabkan merah dan bengkak pada ujung alat kelamin kaum pria, juga di sekeliling vagina (liang senggama) kaum wanita yang terinfeksi gonore.

    HIV/AIDS

    • Perdebatan seputar asal-usul AIDS telah sangat menarik perhatian dan sengketa sejak awal epidemi. Namun, bahaya mencoba mengenali dari mana AIDS berasal.
    • Orang-orang dapat menggunakannya sebagai bahan perdebatan untuk menyalahkan kelompok tertentu atau gaya hidup.
    • Kasus AIDS pertama ditemukan di AS pada 1981, tetapi kasus tersebut hanya sedikit memberi informasi tentang sumber penyakit ini.
    • Sekarang ada bukti jelas bahwa AIDS disebabkan oleh virus yang dikenal dengan HIV. Jadi untuk menemukan sumber AIDS kita perlu mencari asal-usul HIV.
    • Asal-usul HIV bukan hanya menyangkut masalah akademik , karena tidak hanya memahami dari mana asal virus tersebut tetapi juga bagaimana virus ini berkembang menjadi penting sekali untuk mengembangkan vaksin HIV dan pengobatan yang lebih efektif.
    Juga, pengetahuan tentang bagaimana epidemi AIDS timbul menjadi penting dalam menentukan bentuk epidemi di masa depan serta mengembangkan pendidikan dan program pencegahan yang efektif.
    Tanda-tanda dan gejala HIV/AIDS
    • Penurunan berat badan sehingga 10% yang tidak diketahui puncaknya
    • batuk yang kronik dan berterusan
    • Demam yang berpanjangan.
    • Demam ini berlaku secara berkala ataupun berterusan
    • Pembengkakan nodus limfa terutamanya di leher, ketiak dan selakangan.
    • Terserang herpes zoster yang berulang-ulang.
    • Herpes zoster merupakan infeksi saraf oleh virus yang dicirikan oleh kehadiran lepuhan pada kulit.
    • Kandidiasis di mulut dan tekak.
    • Kandidiasis merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh sejenis kulat (fungus).
    Cara menghindar dari HIV/AIDS?
    • Lebih aman berhubungan seks dengan pasangan tetap (tidak berganti-ganti pasangan seksual).
    • Hindari hubungan seks di luar nikah
    • Sedapat mungkin menghindari tranfusi darah yang tidak jelas asalnya; menggunakan alat-alat medis dan non media yang terjamin streril.
    Hygiene Menstruasi
    • Higiene menstruasi adalah semua kondisi atau praktik terhadap menstruasi yang mempengaruhi kesehatan individu.
    • Akibat tidak higiene selama menstruasi, dapat timbul penyakit - penyakit yang berkaitan dengan infeksi alat - alat reproduksi, seperti
    1. Candidosis
    2. Vaginitis
    3. Trichomoniasis
    4. Leukoreapedikulosis
    5. Toxic Syok Syndrome (TSS).
    • Semakin positif sikap terhadap higiene menstruasi maka higiene menstruasinya semakin baik.
    • Semakin sering para perempuan mendapatkan informasi dari orang tua, teman sebaya, media masa, tentang menstruasi maka praktik higiene menstruasinya pun akan lebih baik pula



    Subscribe to receive free email updates:

    0 Response to "RANGKUMAN REPRODUKSI"

    Posting Komentar